Beringin (Ficusspp)
adalah pohon yang memiliki nilai
khusus bagi orang Timur, dikenal sebagai pohon kehidupan, simbol
kekuasaan yang melindungi. Sampai saat ini, masih bisa disaksikan keberadaan sepasang pohon beringin kembar yang selalu menghiasi alun-alun
di depan kraton atau rumah jabatan
Bupati di Jawa. Persepsi budaya dan spiritualitas ketimuran terhadap
beringin berakar dari peran (niche)
ekologis beringin di alam. Arsitektur pohonnya yang besar,
rimbun dan melebar,
merupakan tempat yang nyaman untuk berlindung
dan sekaligus lahan mencari makan bagi berbagai jenis
burung dan mamalia.
Tuhan menciptakan beringin sebagai lumbung makanan
bagi berbagai jenis
burung pemakan buah
di hutan alam.
Beringin merupakan sedikit dari pohon
hutan yang mampu memproduksi buah dalam jumlah besar (hingga
jutaan), masak dalam waktu yang cepat dan biasanya terjadi secara
serempak. Saat musim buah
tiba, suasana pagi hari di seputar pohon beringin begitu riuh-rendah oleh
suara burung, layaknya sebuah pasar, ramai
oleh lalu lintas burung yang hilir-mudik
mengambil buah. Uniknya, produksi
buah beringin tidak mengikuti aturan musim, beringin terus
berbuah, ketika pohon-pohon lain berhenti berbuah. Karena
itu, buah beringin berperan sebagai ’jaring pengaman sosial’ bagi burung pemakan buah.
Bukan
hanya jumlahnya yang melimpah, kandungan gizinyapun tinggi. Buah beringin kaya
akan gula, juga kalsium yang sangat dibutuhkan burung untuk
pembentukan tulang dan cangkang telur.
Buah beringin disukai
burung karena mudah dicerna.
Burung menggantungkan sekitar 70 - 85 % jenis pakannya
dari beringin. Kelimpahan (jumlah) pohon beringin di dalam suatu blok ekosistem
hutan tropika, karena itu, menentukan
kelimpahan jenis burung pemakan buah di wilayah blok
tersebut.
Sedikitnya
ada empat puluh jenis pohon beringin di hutan-
hutan alam Sulawesi. Keragaman jenis beringin di suatu hutan, berbanding lurus dengan
keragaman jenis lebah penyerbuknya (wasps).
Uniknya, setiap jenis lebah penyerbuk, hanya mampu membantu proses penyerbukan beringin
jenis tertentu saja. Sehingga
apabila suatu jenis lebah punah, akan diikuti
oleh kepunahan suatu jenis beringin pula. Hal ini menunjukkan betapa tingginya
keterkaitan dan ketergantungan antara tumbuhan
dan satwa. Implikasinya, konservasi
keragaman hayati di hutan tropika
harus dilakukan berdasarkan pendekatan ekosistem.
Sebuah hutan
yang satwanya habis
oleh kegiatan perburuan, secara
perlahan akan diikuti oleh kehancuran hutannya, karena kelangkaan
agen penyerbuk maupun penyebar biji. Demikian pula sebuah
hutan yang telah
gundul, akan diikuti
oleh kelangkaan satwanya, karena lenyapnya tempat
berteduh (shelter) dan lumbung makanan.
Konservasi jenis, seperti konservasi anoa, tarsius,
kuskus, rangkong, barung rangkong, kupu-kupu,
kayu kuku dan sebagainya, karena itu
tidak dapat dilakukan sendiri- sendiri,
melainkan harus dilakukan dengan mempertahankan keutuhan ekosistem hutan secara
menyeluruh !
Kembali ke beringin. Dari pertumbuhannya dikenal
dua jenis beringin. Beringin
yang langsung tumbuh
dari biji yang bersemai langsung di tanah dan besar sebagai
pohon yang mandiri. Kedua adalah beringin
pencekik (strangling
fig) yang mengawali hidup sebagai parasit (hidup
menumpang dari) pohon lain, kemudian setelah
besar mematikan pohon
inangnya dengan cara mencekik.
Kehidupan beringin pencekik
ini berawal dari biji yang dibawa oleh monyet atau burung, biji tersebut kemudian
terjatuh dan menyangkut di tajuk sebuah
pohon. Setelah bersemai, kemudian menjadi
parasit yang menempel
di cabang pohon. Sebagai
parasit, awalnya beringin kecil ini, memenuhi
seluruh kebutuhan hidupnya dari
mengisap zat hara
dari pohon inangnya.
Setelah akarnya tertancap kuat pada inangnya, beringin secara perlahan
mulai membangun kekuatan,
akar-akar sulurnya tumbuh
kebawah dengan merambat dan membelit pohon inangnya, untuk mendapatkan asupan
makanan secara langsung dari
tanah hutan. Seiring dengan perjalanan waktu, ukuran akar beringinpun semakin
besar dan daya
cekiknya juga semakin
kuat. Kematian pohon inang biasanya
disebabkan oleh, (1) belitan akar-akar beringin; (2) terampasnya aliran sumber makanan
oleh akar-akar beringin; (3) ternaunginya tajuk pohon inang oleh kerimbunan tajuk beringin.
Kematian pohon inang oleh beringin pencekik, merupakan karikatur yang
sempurna terhadap suksesi
kekuasaan (dalam dunia manusia) yang
dilakukan secara anarkis. Beringin merupakan personifikasi penguasa yang mbalelo terhadap sebuah rejim yang notabene
telah
berjasa menghidupi dan membesarkan dirinya. Apapun
alasanya, penumbangan kekuasaan secara anarkis
jelas tidak dapat dibenarkan.
Menariknya
disini, beringin tidak menggunakan kekuasan tersebut untuk kepentingan dirinya,
melainkan demi misi kemanusiaan yang luhur, yaitu dengan
berbuah sebanyak- banyaknya
sepanjang musim untuk kemakmuran burung pemakan
buah dan penghuni hutan lainnya. Proses perebutan ruang
hidup yang begitu tragis, seakan dimaksudkan sebagai upaya untuk
mengganti sebuah rejim yang lemah,
yang tidak mampu
mensejahterakan. Dan akhirnya beringin menunjukan kekuatannya sebagai penguasa yang mampu
berbuat banyak bagi
sebesar-besarnya kemaslahatan lingkungan hidupnya.
Suka atau tidak suka, model suksesi
kekuasaan ala beringin sebagaimana
tergambar di atas memang terjadi dalam realitas sejarah dan kehidupan keseharian. Yang
penting untuk dicatat, bagaimana
sang penakluk tersebut kemudian memanfaatkan kekuasaannya. Apabila ia memiliki
komitmen yang tinggi memperbaiki keadaan, maka ia akan sampai
di gerbang kejayaan. Sebaliknya,
kalau kekuasaan itu hanya untuk memuaskan nafsunya, maka cepat atau lambat, kekuasaan
tersebut akan jatuh secara tragis
pula. Kedua cuplikan sejarah dibawah ini dapat dijadikan
sebagai cermin.
Ken Arok awalnya
adalah seorang pemuda desa yang oleh Brahmana Loh Gawe dititipkan
kepada Tunggul Ametung, seorang Akuwu (Bupati) dari
Tumapel. Karena kecakapan dan kesaktiannya,
Ken Arok kemudian dipercaya menjadi pengawal pribadi
Tunggul Ametung. Setelah
merasa dirinya kuat,
Ken Arok kemudian membunuh Tunggul Ametung
dengan sebilah keris karya Empu Gandring. Setelah Tunggul Ametung tewas, Ken Arok kemudian
menikahi Ken Dedes (janda Tunggul Ametung), serta
mengambil alih kekuasaan Tumapel. Kekuasaan Ken Arok yang telah diraih dengan menghalalkan
segala cara ini akhirnya menuai
batunya, Ken Arok akhirnya dibunuh oleh Anusopati anak
Tungul Ametung.
Dalam
penggalan sejarah lain, Sutawijaya adalah
anak Ki Gede
Pemanahan yang sejak kecil diasuh oleh Sultan Pajang yang bernama
Hadiwijaya (Jaka Tingkir). Hadiwijaya mendidik dan membesarkan Sutawijaya hingga
tumbuh menjadi seorang kesyatria
yang mumpuni. Karena jasa Sutawijaya dalam meredam
pemberontakan Aryo Penangsang, Bupati Jipang, Hadiwijaya
memberi anugerah sebuah lahan luas di Hutan Mentaok.
Sutawijaya kemudian menebang Hutan Mentaok dan
membangunnya menjadi sebuah kota yang hingga
kini dikenal dengan nama Kota Gede. Di kota inilah,
Sutawijaya mulai membangun kekuasaannya.
Setelah dirasa cukup besar, Sutawijaya
kemudian menantang Hadiwijaya yang notabene adalah ayah
angkat yang telah membesarkannya. Alhasil, Sutawijaya berhasil menumbangkan kekuasaan
Hadiwijaya, dan kemudian
menjadi sultan pertama Kerajaaan Mataram, dengan sebutan
Panembahan Senapati.
Panembahan
Senopati dalam catatan sejarah dikenal sebagai Sultan
yang bijaksana. Dalam Kitab Wedhatama,
yang ditulis oleh Sri Mangkunagara IV, yang memerintah Surakarta dari 1857 sampai 1881,
Panembahan Senopati digambarkan sebagai sultan yang selalu berjuang demi kesejahteraan rakyatnya
(amemangun karyanaktyasing sesama).
Alhasil, berkat keutamaan dalam mengelola
kekuasaan, kerajaan Mataram dibawah Panembahan
Senopati semakin besar dan kuat, hingga mencapai keemasan di jaman Sultan Agung, yang merupakan
cucu dari Panembahan Senopati.
Dalam kedua
penggalan sejarah di atas, Ken
Arok merupakan figur
yang haus kekuasaan, dan besar kemungkinannya, Ken Arok memanfaatkan kekuasaan
yang direbutnya hanya untuk memuaskan
nafsu kekuasaannya saja, karena itu kekuasan Ken Arok tumbang secara tragis dalam
waktu yang relatif cepat.
Berbeda dengan Panembahan Senopati yang mampu memanfaatkan kekuasaan demi kemakmuran
rakyatnya, ia dikenang sebagai
raja yang arif dan bijaksana
dan kekuasaan yang
diperoleh dapat dipertahankan dalam jangka lama oleh keturunannya.
Dalam
konteks kekinian, pemilihan kepala daerah (Bupati dan
Gubernur) yang dilakukan secara langsung saat ini tak dipungkiri
banyak menimbulkan masalah, karena berbagai dugaan
kecurangan yang terjadi selama proses pemilihan. Bisa
jadi, memang ada, kepala daerah
terpilih yang dulunya menggunakan segala cara demi
menaklukan lawan politiknya. Bagi
mereka yang berbuat
demikian, pergunakanlah kesempatan emas yang anda miliki sekarang untuk bertaubat dengan bekerja keras
demi kemakmuran rakyat. Saatnya masyarakat menikmati kemakmuran dalam arti yang
sebenar-benarnya, sebagaimana komunitas burung
pemakan buah yang menikmati melimpahnya buah
pohon beringin, sepanjang musim !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar