”Dengan
intensitas hujan ekstrem yang sering terjadi di
Indonesia, penutupan apapun (termasuk hutan) sering tidak mampu menahan terjadinya banjir dan tanah longsor. Diperlukan gerakan masal menabung air melalui pembangunan sejuta resapan yang memberikan dampak penampungan dan pengendalian secara cepat”
Ada
tiga hal yang mempengaruhi tingginya laju kerusakan lahan di Indonesia, pertama adalah energi, kedua adalah resistensi dan
ketiga adalah proteksi. Dari
segi energi, kerusakan begitu cepat oleh tingginya intensitas
hujan, dengan intensitas hujan
yang tinggi, maka sebagian besar air hujan yang jatuh hampir tidak dapat
diselamatkan, karena sebagian besar akan secara
cepat mengalir ke sungai dan kemudian terbuang ke laut. Kondisi ini juga diperparah
oleh pendeknya sungai-sungai di Indonesia
yang rata-rata hanya sepanjang 250 km, pendeknya sungai juga membatasi penggunaan
sumberdaya air untuk berbagai
keperluan. Selanjutnya, tanah yang memiliki
resistensi yang
rendah (erodibilitas tingi), sehingga laju erosi umumnya sangat tinggi, demikian pula laju sedimentasi.
Kondisi ini semakin
lengkap bila dilihat
oleh lemahnya proteksi,
tingginya kepadatan penduduk, kurangnya kepedulian terhadap lingkungan dan perubahan yang begitu cepat,
yang secara keseluruhan tidak sebanding
dengan resiliensi (daya lenting)
ekosistem alam untuk mencapai keseimbangan baru.
Tingginya
Intensitas Hujan
Curah hujan harian tertinggi di Indonesia yang pernah tercatat selama
ini adalah setebal
702 mm (terjadi di Ambon), curah hujan
yang terjadi di Bogor pada tanggal 29, 30 dan 31 Januari 2002, pada saat banjir di
Jakarta tercatat setebal 380 mm, sedangkan di Jakarta pada waktu itu curah hujan
hingga setebal 420 mm. Curah
hujan bulanan rata-rata tahunan (musim hujan dan kemarau) setebal 350 mm. Sedangkan
curah hujan bulanan
rata-rata di musim hujan adalah setebal 450 mm. Dengan
demikian hujan yang terjadi selama
tiga hari itu hampir setara
dengan hujan yang turun selama satu bulan di musim hujan
biasa. Bisa dibayangkan curahan air yang harusnya terdistribusi dalam waktu 30 hari, tercurah sontak selama 3 hari !
Menghadapi kondisi ekstrem semacam ini, apapun penutupan
lahannya tidak akan mampu membendung luapan aliran
permukaan, karena curahan air benar-benar telah melampaui kapasitas maksimum tanah
memegang air (water holding
capacity). Dalam kondisi tersebut, penutupan lahan sebaik apapun tidak akan berdaya
mengusir datangnya banjir !
Hutan dan Banjir
Berdasarkan berbagai penelitian pada Daerah Aliran Sungai (watershed/catchment area) berukuran
kecil (kurang dari 25 km2) menunjukkan bahwa hutan hanya
mampu mengendalikan banjir
yang ditimbulkan oleh hujan berintensitas rendah sampai sedang
(< 100 mm/hari).
Perbandingan respon aliran permukaan terhadap hujan, antara wilayah
non-hutan (pertanian semusim) dan wilayah
yang hutannya masih utuh adalah sebagai berikut: Untuk curah
hujan dengan intensitas rendah (Sekitar 15 mm/jam), peningkatan aliran langsung (Qf) dan debit puncak banjir (Qp) dari kawasan non-hutan
(dibandingkan hutan, yang masih utuh)
adalah sebesar satu setengah hingga dua kali lipat. Untuk intensitas hujan sedang (15-30 mm/jam), Qf dan Qp meningkat sekitar setengahnya, sedangkan untuk intensitas
hujan besar (sekitar 75 mm) Qf dan Qp meningkat antara sepersepuluh hingga seperempatnya, sedangkan pada hujan
ekstrim Qf dan Qp hanya meningkat kurang dari sepersepuluh debit
puncak banjir semula. Mengingat semakin besar intensitas curah hujan, semakin melampaui keterbatasan hutan
untuk menahan laju air, sehingga pada saat
terjadi hujan yang sangat ekstrim dimungkinkan besarnya
banjir adalah sama antara wilayah berhutan dan
tidak berhutan.
Dengan demikian dapat
dipahami, mengapa suatu
DAS yang penutupan hutannya
masih baik juga tidak 1uput dari kunjungan
banjir. Contohnya DAS Batanghari, pada tahun 1950-an terjadi banjir besar
yang diduga sama atau mungkin
lebih besar daripada banjir bandang yang terjadi
pada tahun 1991. Padahal pada tahun tersebut penutupan hutannya tentu masih cukup baik. Kemudian banjir bandang
di Banyumas pada tahnn 1861, sebagaimana yang
dilaporkan oleh majalah dua mingguan berbahasa
Belanda Java Bode
(Overstrooming te Banyumas den
21 tot 23 February, 1861).
Di majalah tersebut, antara lain dilaporkan bahwa banjir yang terjadi pada tanggal
22 Pebruari 1861 dipicu oleh hujan besar
yang terjadi secara terus-menerus selama tiga hari. Dari Yogyakarta dilaporkan bahwa antara jam empat pagi hingga malam
hari pada tanggal tersebut, terjadi hujan sangat ekstrim hingga mencapai ketebalan sekitar
600 mm, kemudian
di sekitar dataran
tinggi Dieng antara tanggal 19 hingga 23 Pebruari juga tercatat hujan tidak kurang
dari 1.000 mm. Pada saat kejadian banjir, tinggi muka sungai
Serayu pada jam lima sore mulai
meningkat dengan cepat, kemudian banjir mulai meluap sekitar jam sepuluh malam yang
menyebakan penggenangan air hingga 10 meter
di wilayah Banyumas.
Wilayah Jawa selatan (termasuk Banjarnegara yang baru mengalami musibah
tanah longsor) memang sering dilanda
banjir sejak jaman tempo doeloe, hal ini antara lain dapat
ditelusuri dari salah
satu tembang yang melukiskan adanya
ikan kecil (Uceng) yang menempel di bunga pohon kelapa (Manggar) [Wartono Kadri, Kom Prib, 2002].
Gambar 4. Gambaran sepotong
DAS dengan beberapa anak sungainya. Di Indonesia rata-rata
panjang sungainya (Hulu ke muara) < 250 Km
Apabila proses dehutanisasi meliputi wilayah
yang luas (lebih besar
30 persen luas hutan dari DAS) sebagaimana
yang terjadi pada peristiwa banjir di wilayah Riau dan Sumatra
Barat, Jambi, Riau pada 1991/1992, juga Jember,
Manado, Jakarta, Pantai
Utara Jawa, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat sebagaimana akhir- akhir ini,
terbatasnya kapasitas peresapan tanah mengakibatkan kenaikan
debit puncak banjir dari sebagian
besar Sub DAS yang bermuara pada sungai besar
di wilayah hilir,
dalam kasus ini deforestasi
atau kerusakan penutupan lahan memang
menjadi penyebab yang sama dominannya dengan faktor-faktor penyebab banjir lainnya
(intensitas hujan dan sebagainya).
Pembangunan Sejuta Resapan
Perlu. diingat, kegiatan restorasi penutupan lahan seperti reboisasi
dan penghijauan juga. tidak mampu secara cepat mengendalikan
penurunan laju banjir dan sedimentasi di wilayah
hilir. Lihat saja kasus di China, untuk mengurangi 30 persen debit puncak banjir dan
hasil sedimen dari DAS seluas 100.000 km2, diperlukan waktu selama 20 tahun. Hal tersebut
disebabkan oleh tingginya beban sedimen yang mempersempit volume sungai,
yang berasal dan proses erosi dari kurun waktu sebelumnya. Karena itu bisa dipahami, kalau
besarnya laju sedimen yang
terukur di outlet suatu DAS sering tidak
berkorelasi dengan berbagai perbaikan ataupun perusakan di
wilayah hulu, mengingat besarnya temporary storage sediment yang berada di sekitar pengaliran. Timbunan
sedimen ini, bisa terangkut ke hilir dalam waktu beberapa jam, maupun beberapa
puluh tahun kemudian, bergantung proses pengendapan yang terjadi maupun aliran pengangkutnya.
Keberhasilan hutanisasi dan penghijauan di wilayah hulu,
jelas tidak memberikan dampak secara cepat terhadap
penurunan laju sedimentasi di wilayah hilir, sebagaimana anggapan
banyak pihak selama
ini. Diperlukan jangka
waktu setidaknya sepuluh
tahun untuk mengevaluasi tingkat keberhasilan
kegiatan tersebut, terhadap penurunan
banjir dan sedimentasi, serta pengendalian kekeringan. Dengan demikian diperlukan gerakan masal menabung air melalui
pembangunan sejuta resapan
yang memberikan dampak penampungan dan pengendalian secara
cepat, misalnya pembangunan dan atau revitalisasi danau- danau besar, danau-danau kecil (embung), dam penahan, dam pengendali, sumur
resapan dan sebagainya selain kegiatan restorasi hutan itu sendiri !

Tidak ada komentar:
Posting Komentar